Niat Besar Untuk Komunitas Sahabat Kecil
Sukaraja|Kotahujan.com-Setiap hari minggu puluhan anak Desa Cikeas, Sukaraja, berkumpul untuk bermain dan belajar di saung sederhana yang tidak terlalu besar. Saung itu adalah Sanggar Kosacil (Komunitas Sahabat Kecil). Intan Asri Nurani (26), Vallent Heinemann (26), dan Sera Pasaribu (27) membentuk Kosacil sejak 21 Juni 2010. Saat ini mereka dibantu oleh 25 orang volunteer untuk menangani lebih dari 100 anak.
“Tiap minggu jumlahnya naik turun, kadang banyak, kadang sedikit, karena kita tidak memaksa mereka untuk datang ” ujar Intan.
Selain membantu anak-anak dalam pelajaran sekolah, tim pengajar Kosacil juga memperkenalkan tentang bermacam-macam profesi dan hobi. Lokasi Sanggar Kosacil sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kota, namun menurut Intan pengetahuan anak-anak didiknya tentang profesi masih sangat terbatas, anak-anak hanya tahu profesi guru sekolah dan guru mengaji.
Kosacil awalnya hanya reunian SD, yaitu SD Pengadilan 2 angkatan tahun 1996. Namun beberapa orang berinisiatif untuk membuat kegiatan sehingga mereka tetap bisa berkumpul sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat
“Kita ingin berbuat sesuatu supaya perkumpulan kita bukan hanya sekedar jalan-jalan atau nongkrong di Mall”
Pilihan bergerak di bidang pendidikan akhirnya mereka pilih. Hal ini karena keprihatinan banyaknya anak-anak yang tidak bisa sekolah karena alasan biaya pendidikan yang mahal. Vallent, inisiator awal Kosacil mengatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat ada anak-anak yang tidak bisa membaca.
“Harapanku Sanggar Kosacil bisa jadi sekolah alternatif yang gratis, disubsidi sepenuhnya oleh kami” ujarnya.
Mereka sadar untuk menjalankan niat mereka bukan tanpa halangan. Sumber dana yang mereka ambil dari kantong sendiri terkadang harus bersaing dengan kebutuhan hidup mereka, belum lagi kendala naik turunnya motivasi para pengelola karena berbagai hal
“Mudah-mudahan kita masih punya motivasi yang kuat sampai tujuan kita yang banyak dan besar itu bisa tercapai” ujar Intan.
“Tiap minggu jumlahnya naik turun, kadang banyak, kadang sedikit, karena kita tidak memaksa mereka untuk datang ” ujar Intan.
Selain membantu anak-anak dalam pelajaran sekolah, tim pengajar Kosacil juga memperkenalkan tentang bermacam-macam profesi dan hobi. Lokasi Sanggar Kosacil sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kota, namun menurut Intan pengetahuan anak-anak didiknya tentang profesi masih sangat terbatas, anak-anak hanya tahu profesi guru sekolah dan guru mengaji.
Kosacil awalnya hanya reunian SD, yaitu SD Pengadilan 2 angkatan tahun 1996. Namun beberapa orang berinisiatif untuk membuat kegiatan sehingga mereka tetap bisa berkumpul sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat
“Kita ingin berbuat sesuatu supaya perkumpulan kita bukan hanya sekedar jalan-jalan atau nongkrong di Mall”
Pilihan bergerak di bidang pendidikan akhirnya mereka pilih. Hal ini karena keprihatinan banyaknya anak-anak yang tidak bisa sekolah karena alasan biaya pendidikan yang mahal. Vallent, inisiator awal Kosacil mengatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat ada anak-anak yang tidak bisa membaca.
“Harapanku Sanggar Kosacil bisa jadi sekolah alternatif yang gratis, disubsidi sepenuhnya oleh kami” ujarnya.
Mereka sadar untuk menjalankan niat mereka bukan tanpa halangan. Sumber dana yang mereka ambil dari kantong sendiri terkadang harus bersaing dengan kebutuhan hidup mereka, belum lagi kendala naik turunnya motivasi para pengelola karena berbagai hal
“Mudah-mudahan kita masih punya motivasi yang kuat sampai tujuan kita yang banyak dan besar itu bisa tercapai” ujar Intan.
Tautan halaman ini.
0 komentar:
Posting Komentar